Home Informasi Mengenal Pupuh Ginada Budaya Bali yang Masih Dilestarikan

Mengenal Pupuh Ginada Budaya Bali yang Masih Dilestarikan

Wartapoin.com – Setiap daerah di Indonesia, umumnya memiliki ciri khas dan kebudayaannya masing-masing sehingga akan berbeda satu sama lain. Nah begitu juga dengan salah satu daerah yaitu Bali, ia juga memiliki budaya yang diturunkan ke generasi berikutnya. Pupuh Ginada adalah contoh budaya tradisional khas Bali.

Sebelum masuk lebih lanjut, perlu diketahui bahwa Pupuh sebenarnya ada berbagai jenis dan Ginada adalah salah satunya. Ada Pupuh sinom, pangkur, ginanti, maskumambang, durma, pucung, mijil, dandang, dan semarandana. Langsung saja yuk kenal lebih lanjut tentang Pupuh Ginada berikut.

Apa Itu Pupuh Ginada?

Sebelumnya sudah dibahas sekilas mengenai Pupuh jenis Ginada. Meskipun ada banyak jenis Pupuh, namun Ginada salah satu yang populer. Secara umum, sebenarnya Pupuh berarti puisi atau disebut sebagai kumpulan kata menjadi kalimat yang bermakna.

Umumnya berisi mengenai kehidupan sehari-hari yang dapat memberikan aturan, peringatan, atau lainnya sehingga bermanfaat untuk manusia. Biasanya kehadiran Pupuh ini akan diberikan atau disampaikan dalam acara besar keluarga sebagai pesan atau pengingat.

Tidak hanya itu, Ginada juga dapat disampaikan melalui lagu dengan iringan musik yang akan membuatnya terdengar semakin indah. Sangat terkenal pada tahun 60 hingga 70 an yang mengisyaratkan kerendahan hati dan mencegah sifat sombong manusia.

Aturan Pembuatan Pupuh Jenis Ginada

Setiap Pupuh ternyata memiliki aturan yang berbeda, tentu saja juga berlaku pada Ginada yang perlu disusun dengan aturan tertentu. Memang untuk menciptakan harmonisasi kalimat yang cantik dan sedap didengar dibutuhkan sedikit bumbu artistik.

Pertama karena Ginada merupakan kebudayaan dari Bali, maka harus dibuat dalam bahasa Bali untuk mempertahankan ciri khas daerahnya. Kemudian setiap kata yang disusun menjadi kalimat juga sangat singkat dan sederhana.

Nah, setiap kalimat yang disusun harus memiliki 7 baris dan pada setiap barisnya juga memiliki aturan tertentu. Khusus untuk Ginada, aturan yang dibuat dapat dirangkum dengan urutan sebagai berikut:

  • 8a merujuk pada ciptaan sesuai pemenggalan kata berjumlah 8 dan diakhiri dengan huruf a pada kata akhir baris pertama.
  • 8i yang berarti baris kedua, kata yang terkandung harus berjumlah 8 penggalan dan diakhiri dengan huruf i.
  • 8u menunjukkan bahwa baris ketiga harus mengandung 8 penggalan kata dan yang terakhir memiliki huruf u.
  • 8a pada baris keempat yang harus punya 8 penggalan dengan huruf pada kata terakhir adalah a.
  • 4i yang memiliki sedikit perbedaan karena hanya perlu memiliki 4 penggalan kata dan diakhiri huruf i. Misalnya jika dibuat dalam bahasa Indonesia adalah “Harga diri”.
  • 8a merupakan aturan untuk baris terakhir yang memerlukan 8 penggalan kata, lalu di akhir dengan huruf a.

Contoh Makna Pupuh Jenis Ginada dalam Bahasa Indonesia

Sebelumnya telah dibahas mengenai pengertian hingga aturan pembuatannya, namun belum tahu bagaimana isi atau contohnya. Nah akan disampaikan beberapa makna Ginada yang umumnya membicarakan mengenai perilaku rendah diri dan tidak sombong.

Contoh salah satu baris atau bait yang terkenal dalam Ginada adalah “Eda ngaden awak bise, depang anake ngadanin” yang masih terkenal hingga saat ini. Melalui Ginada tersebut dapat diterjemahkan seperti “jangan anggap diri sendiri mampu, biarkan orang lain yang menilai.”

Meskipun terdengar sederhana, namun makna yang diberikan cukup penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebab ketika seseorang merasa mampu maka akan muncul banyak sikap buruk seperti sombong, tidak menghargai orang lain, dan sebagainya.

Nah itu beberapa hal yang dapat disampaikan mengenai Pupuh Ginada, salah satu budaya khas Bali yang cukup menarik dan bermanfaat. Alangkah baiknya ketika menginjakkan kaki di suatu tempat, maka hargai dan taati adat yang berlaku. Pupuh juga dapat dikenalkan sebagai pengingat perilaku.

Postingan Terkait :